Banjir Bandang Terjang Purbalingga, 500 Warga Mengungsi
Bencana terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, pukul 22.00–03.00 WIB.
PURBALINGGA – Bencana banjir badang yang melanda beberapa desa di Kecamatan Karangreja dan Mbrebet Kabupaten Purbalingga, Jumat - Sabtu (23 - 24/1/2026) menyisakan duka mendalam ratusan warga yang kini masih tinggal di pengungsian.
Berdasarkan informasi dari BPBD Purbalingga, bencana terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, pukul 22.00–03.00 WIB. Kerusakan terparah terjadi di Desa Serang. Di Dusun Kaliurip, 36 rumah rusak berat (tertimbun lumpur, batu, dan kayu), enam rumah rata dengan tanah, dan sekitar 500 jiwa mengungsi.
Di Dusun Gunung Malang, 12 rumah rusak berat, enam rumah terancam, dua jalan kabupaten terputus, serta dua jembatan rusak.
Kemudian di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet tercatat 78 rumah terdampak luapan banjir, 7 rumah hanyut, puluhan hewan ternak hanyut (mati, red) dan tiga rumah rusak berat.

Dilaporkan dua jembatan terputus, tujuh sepeda motor dan dua mobil hilang terbawa arus. Sementara di Kecamatan Karangreja, Desa Kutabawa Dusun Bambangan, sebanyak 29 rumah terdampak rusak ringan, 60 hektare lahan pertanian gagal panen, 1.000 sak pupuk dan alat pertanian hilang.
Tercatat, tiga sepeda motor hanyut, akses jalan kabupaten tertutup material longsor sepanjang 12 meter, serta jembatan penghubung Kutabawa–Clekatakan ambruk.
Gerak Cepat Penanganan Darurat
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah ini. Ia juga bergerak cepat langsung meninjau langsung sejumlah titik terdampak bencana banjir bandang dan angin ribut di Kecamatan Mrebet dan Karangreja.

"Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi di wilayah lereng Gunung Slamet. Banjir bandang membawa banyak material, mulai dari batu, kayu, pohon, lumpur yang berasal dari area hutan (pegunungan, red),” kata Bupati Fahmi seraya menambahkan jika banjir bandang juga menyebabkan satu meninggal dunia dan seorang mengalami luka berat.
Bupati Fahmi mengapresiasi sinergi BPBD, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat dalam penanganan darurat, mulai dari pembukaan sumbatan sungai, pembersihan material, hingga evakuasi warga.
Karena titik bencana menyebar dan cukup banyak sehingga memaksa penanganan harus dilakukan secara bertahap. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


